Mockingjay (2010) – Book Review

Katniss Everdeen terbangun di distrik 13 setelah kekacauan yang terjadi di perhelatan Hunger Games yang ke 75, tau yang sering disebut sebagai Quarter Quell ketiga.

image

Kini terungkap bahwa sebagian besar dari sekutunya di arena Hunger Games lalu itu telah diam-diam sepakat untuk melakukan sabotase dan pembelotan untuk segera lolos ke distrik 13 yang selama ini  masih belum di ketahui jelas keadaannya.
 
Distrik 13 terdiri atas masyarakat dari berbagai distrik yang bersatu  untuk mengahancurkan pemerintahan Capitol.  Kini mereka membutuhkan kerjasama Katniss untuk membantu pergerakan tersebut.

Sisi baiknya ibu Katniss dan juga adiknya, Prim, serta teman terdekatnya, Gale, saat ini sudah berkumpul bersamanya di sana. Namun kabar buruknya, Haymitch, mentornya di kala Hunger games, gagal menyelamatkan Peeta, yang kini tidak diketahui bagaimana keadaanya di tangan Capitol. Akankah Katniss setuju dengan permintaan distrik 13 untuk menjadikannya ikon pemberontakan dan turun tangan dalam perlawanan terhadap Capitol, bagaimana keadaan Peeta dan bagaimana hubungan Katniss dengan Gale dan Peeta?

Buku terakhir dari trilogi the Hunger Games ini menghadirkan alur cerita maju yang menegangkan, dengan banyak klimaks di beberapa puluh halaman terkahir, hingga akhirnya menyuguhkan suati ending yang membuat pembacanya menahan napas.

Genre: adventure, fantasy, fiksi, action
Penulis: Suzanne Collins
Trilogi: The Hunger Games (1), Catching Fire (2), Mockingjay (3)

Advertisements

The Hunger Games (2008) – Book Review

Katniss everdeen, seorang gadis berusia 16 tahun yang kini tinggal bersama adik perempuannya, Prim, dan ibunya yang masih labil akibat kematian sang suami, ayah Katniss,  di sebuat wilayah bernama Panem di Amerika Utara.

the hunger games

Semenjak kecelakaan tragis di tambang distrik 12 tempat ayah Katniss bekerja, Katniss pun menjadi tulang punggung keluarga, berupaya mencari uang tambahan dari hasil perburuannya di hutan. Di hutan itu biasanya Katnis berburu bersama satu-satunya teman dekatnya, Gale yang berusia lebih tua dari Katniss.

Hari-hari pun berlalu hingga waktunya untuk mengundi siapakah dua perwakilan dari distrik 12 untuk mengikuti permainan hidup dan mati, The Hunger Games. The Hunger Games merupakan acara yang diadakan setiap tahun dengan satu laki-laki dan satu perempuan berusia 12-18 tahun dari setiap distrik sebagai pesertanya.

Setelah semua terkumpul, nama pertama yang disebut untuk perwakilan distrik 12 adalah Peeta Mellark, seorang laki-laki remaja, dia juga bersekolah di sekolah yang sama dengan Katniss, walaupu merekatak oernah saling berbicara. Peeta maju dengan tenang ke atas panggung mendekati, Haymitch, pemenang the Hunger Games perwakilan dari distrik 12 beberapa tahun lalu, yang kini hanya mabuk-mabukan disamping profesi utamanya saat ini untuk menjadi mentor bagi peserta Hunger Games dari distrik 12.

Nama berikutnya yang tersebut, tak terduga adalah nama Prim, sontak Katniss pun terkejut mendengar nama adiknya yang masih begitu belia harus menghadpi permainan pertahanan hidup ini. Katniss pun mengajukan keberatannya dan meminta panitia untuk menukar nama adiknya dengan namanya.

Bagaimanakah nasib Katniss? Mampukah ia bertahan hanya dengan bermodalkan kemampuan berburu dengan panahnya?

Novel pertama dari trilogi novel karya penulis Amerika, Suzanne Collins ini mampu membawa pembacanya tertarik ke dunia Hunger Games. Pembaca di bawa untuk membayangkan bagaimana dunia tersebut dan beragam lingkungan yang harus dihadapi Katniss. Dengan sudut pandang orang pertama, buku bergenre adventure ini juga mampu menarik kisah romansa dan drama antara Katniss dengan tokoh-tokoh lain seperti Gale, Peeta, Haymicth dan peserta lainnya

Buku ini akan menhingatkan kita akan reality show yang dulu sempat marak, Survivor, yang mana misi utamanya adalah untuk bertahan hidup di tengah alam liar. Sebagai pertama dari sebuat trilogi, novel ini behasil membuat pembaca untuk tidak sabar untuk melanjutkan membaca buku keduanya.

Buku ini juga sudah difilmkan pada tahun 2012 lalu, dengan Jennifer Lawrence yang berperan sebagai Katniss, Josh Hutchherson sebagai Peeta, dan Liam Hemsworth sebagai Gale. Dan saat ini para penggemar Hunger Games sedang menanti film keduanya, Catching Fire yang akan tayang dalam waktu dekat ini.

Genre: Adventure, science fiction, action
Penulis: Suzanne Collins
Trilogy: The Hunger Games (1), Catching Fire (2), Mockingjay (3)


1Q84 (2009) – Book Review

Tengo adalah seorang guru  matematika di sebuah tempat bimbingan belajar SMA di Tokyo yang juga berprofesi sebagai penulis lepas sembari mengirimkan novel-novel buatannya untuk diikutsertakan dalam sayembara penulis amatir.

Aomame adalah seorang pelatih di sebuah pusat kebugaran,  memiliki profesi rahasia yang hanya diketahui segelintir orang, profesi yang berkaitan dengan keadilan wanita.

murakami 1q84

Keduanya berusia 30 tahun, keduanya menjalani kesehariannya secara rutin, keduanya terpisah jarak dan tidak menyadari keberadaan mereka satu sama lain. Namun perlahan tapi pasti mereka diseret ke dalam satu dunia yang saling berhubungan, yang akan mengubah rutinitas dan kehidupan mereka.

Dimulai ketika Tengo diminta untuk membantu penulisan sebuah novel karya seorang gadis cantik berusia 17, yang pendiam dan misterius, dan ketika Aomame menjalankan suatu misi yang mengharuskannya berjalan kaku turun dari sebuah jalan bebas hambatan yang padat merayap.

Apakah yang membuat dunia mereka berubah, dan apakah hubungan kedua tokoh yang menjalani kehidupan yang jauh berbeda ini?

Karya terbaru Haruki Murakami yang sudah diterjemahkan ini menjadi salah satu karyanya yang banyak direkomendasikan para pecinta buku. Buku 1Q84 ini mampu menyajikan kehadiran dua tokoh utamanya secara seimbang dengan membagi dua chapter-chapter di dalamm buku, satu chapter untuk Tengo, satu chapter untuk Aomame.

Ceritanya tidak biasa, namun dijabarkan dengan detail sehingga pembaca dapat membayangkan dengan mudah seakan cerita unik ini adalah hal biasa. Tokoh-tokoh yang turut meramaikan buku ini pun memiliki karakter yang unik dan kuat. Sayangnya sebagaimana kebiasaan para penulis asal Jepang, akhir cerita pada buku ini dibuat agak menggantung, untuk memberikan kesempatan pada pembaca untuk memikirkan bagaimana ending seharunya yang mereka inginkan. Despite of that, buku ini adalah karya yang mampu menghipnotis pembacanya terbawa ke dunia 1Q84 🙂

Genre: novel, fiksi, Jepang
Penulis: Haruki Murakami


Norwegian Wood (1987) – Book Review

Watanabe Toru usia 37 tahun sedang berada di pesawat menuju Hamburg, Jerman, ketika mendengar lantunan orkestra lagu Norwegian Wood menjadi teringat masa mudanya, ketika berusia hampir 20 tahun. Sebagai seorang mahasiswa Fakultas Sastra dengan jurusan Drama di sebuah Universitas Swasta di Tokyo. Ia seorang mahasiswa pendiam yang tidak memiliki teman dekat, karena teman dekat satu-satunya, Kizuki, telah mengakhiri hidupnya di usia 17 tahun, tepat setelah mereka mengabiskan waktu senggang untuk bermain biliyar.

norwegian wood

Kehidupan Watanabe di masa kuliahnya berjalan datar dan biasa saja, hingga suatu hari dirinya tak sengaja bertemu dengan Naoko, pacar sahabatnya dulu. Semenjak itu, mereka berdua selalu bertemu seminggu sekali, Watanabe memang sedikit memendam rasa kepada gadis cantik yang pendiam itu.  Tapi kebahagiaan itu tidak berlangsung lama, Naoko cuti kuliah dan memutuskan untuk menenangkan diri, Watanabe pun kembali kesepian, hanya berkirim surat dengan Naoko sesekali. Kemudian datanglah sosok Midori yang ceria, yang penuh dengan semangat dikehidupan Watanabe. Kini Watanabe berada di sebuah posisi yang sulit, antara masa lalu dan masa kini, yang manakah yang akan Watanabe pilih?

Satu lagi novel karya Haruki Murakami yang mampu menghipnotis pembacanya ke era 60an karena kehidupan mahasiswa di Jepang tergambar secara detail. Bagi yang sebelumnya sudah membaca buku yang berisikan kumpulan cerpen karya Murakami-san yang berjudul Blind Willow, Sleeping Woman, pastinya merasa sudah pernah membaca novel ini. Hal tersebut karena Norwegian Wood ini merupakan perpanjangan cerita dari cerpen yang berjudul Fireflies yang terdapat pada buku Blind Willow, Sleeping Woman.

Alur cerita berjalan nyaman, dan terarah, banyak masukan mengenai musik-musik dan juga buku yang dibaca baik oleh Watanabe maupun yang dilantunkan oleh Reiko, mentor dari Naoko yang hobi memainkan Gitar. Satu lagi kebiasaan Murakami adalah, ending yang sedikit membuat pembacanya berpikir, agak sedikit mengambang dan penuh tanda tanya. Namun konon katanya, hal tersebut sengaja dilakukan untuk memberikan kebebasan kepada membaca dalam menentukan endingnya, setelah dibaca, cerita tersebut adalah milik pembaca, begitu katanya.

Genre: Fiksi, Drama, Romance
Penulis: Haruki Murakami


Bitter Sweet Rain (1984) – Book Review

Genre: Novel, Fiksi, Romantis
Penulis: Sandra Brown

bitter sweet rain

Caroline Dawson Lancaster, kini mengadapi suaminya, Roscoe Lancaster yang sedang dalam maasa kritis akibat kanker perut yang sudah parah. Ia harus memberitahukan hal ini kepada anak tirinya yang masih polos, Laura Jane, bahwa hidup ayahnya tak lama lagi. Lalu tugas Granger, pengacara pribadi Roscoe, adalah memberitahukan anak laki-laki Roscoe, Rink, yang hampir dua belas tahun meninggalkan rumah megah keluarga Watson, keluarga istri pertama Roscoe. Rumah megah itu dikenal dengan nama The Retreat.

Perbedaan usia yang sangat jauh memang sempat menjadi perbincangan orang-orang sekitarnya, usia Caroline lebih tua 5 tahun dari anak perempuan Roscoe, Laura Jane yang berusia 22 tahun. Keduanya bertemu karena Caroline bekerja sebagai bagian pembukuan untuk perusahaan tekstil Roscoe, Lancester Gin.

Situasi tak mengenakan terjadi setelah Roscoe dikatakan kritis, selain tak lama lagi dirinya akan menjadi janda, Caroline juga harus berhadapan dengan Rink. Cinta pertamanya saat dirinya berusia 15 tahun, yang dulu meninggalkannya karena Rink harus menikahi gadis yang diduga hamil karenanya. Dan kini mereka berhadapan sebagai ibu dan anak tiri di The Retreat.

Bagaimanakah kelanjutan dari kehidupan Caroline dan bagaimana Ia harus menghadapi kedatangan Rink setelah dua belas tahun lamanya?

Novel karya Sandra Brown ini kali ini tanpa kasus-kasus kriminal ataupun pembunuhan, Murni sebuah novel romantis, penuh intrik antara beberapa karakter. Bagaimana ego, cerita masa lalu dan perasaan setiap tokoh dihadirkan dengan bumbu-bumbu yang menarik untuk dibaca. Dan lagi lagi, karya Ms. Brown yang satu ini diperuntukan bagi pembaca dewasa, karena beberapa bumbu yang dihadirkan sedikit melebihi ekspektasi pembaca.


Smoke Screen (2008) – Book Review

Genre: Crime, Novel, Fiksi, Misteri
Penulis: Sandra Brown

smoke screen

Brittany Shelley, seorang reporter tv nasional yang sedang naik daun, sedang dalam masa jayanya mengalami suatu kejadian yang mengubah hidupnya dalam semalam. Britt terbangun di kamar Jay Burgess, seorang Polisi di Charleston yang dulu pernah dipacarinya. Jay tergeletak disebelahnya tak bernyawa, dan celakanya Britt tak mengingat apapun yang terjadi malam sebelumnya tepat setelah Jay mendadak mengajak bertemu dan akhirnya mereka mengobrol di sofa milik Jay. Hanya sampai saat itu saja ingatan yang ada pada Britt. Kini Britt harus berhadapan dengan interograsi polisi, dan harus menunggu sampai hasil tes dan otopsi keluar.

Sialnya lagi, disaat Britt seharusnya istrahat dan menenangkan diri di kediamannya, Britt justru diculik. Penculiknya tak lain adalah Raley Gannon, teman masa kecil Jay yang merupakan seorang mantan Petugas Pemadam Kebakaran,  yang kasusnya menjadi bahan pertama Britt menuju karir yang menanjak sebagai seorang Reporter. Apakah maksud Raley menculik Britt, dan bagaimana nasib Britt selanjutnya?

Novel karya Sandra Brown ini menghadirkan sisi kriminal, misteri yang tak lepas dari romantisme khas Ms. Brown. Suatu masalah yang rumit secara runtun dihadirkan pada novel ini, tidak lupa dengan akhir cerita yang tak terduga. Karakter kuat tiap tokoh hadir dari sudut pandang orang ketiga, tanpa menghakimi dan tetap objektif.

Kasus yang ada membuat pembaca turut memutar otak dan menduga-duga, apa modus dan siapa saja yang sebenarnya bertanggung jawab atas kasus tersebut. Seperti biasa, karya Sandra Brown sepertinya memang harus dimasukan dalam kategori dewasa karena, dalam novel ini hadir beberapa adegan dewasa yang hampir detail, walau fokus utama tetap pada kasus pembunuhan yang terjadi.

Buku ini juga sempat difilmkan pada tahun 2010 dengan judul sama, disutradarai oleh Gary Yates dan diperankan oleh Jaime Pressly, Currie Graham, dan Garwin Sanford.


From Paddington 4:50 (1957) – Book Review

Genre: Misteri, Detektif, Novel, Fiski, Kriminal
Penulis: Agatha Christie

Mrs. McGillicuddy baru saja berbelanja kebutuhan Natal di London, dalam perjalanannya untuk kembali ke desanya St. Mary Mead dengan kereta pukul 4:50, suatu hal yang tak terduga mengagetkannya. Tepat ketika keretanya berdampingan dengan kereta lain, Mrs. McGillicuddy melihat adegan seorang pria yang memunggungi jendela kereta sedang mencekik seorang wanita hingga ambruk.

from paddington 4.50

Mrs. McGillicuddy yang baru tersadar dari keterkejutannya pun melaporkan hal ini kepada kondektur yang kebetulan baru tiba di kompartemennya. Namun sayangnya ucapan wanita paruh baya ini dianggap lalu oleh sang petugas. Kesal tak dianggap, Mrs. McGillicuddy mencurahkan ceritanya kepada teman baiknya, Jane Marple. Dengan tenang Miss Marple mengusulkan untuk menunggu beritanya di koran pagi, karena cepat tau lambat, dugaanya, mayat itu seharusnya ditemukan dan membuat heboh surat kabar Inggris.

Sayangnya berita yang ditunggu tak kunjung tiba, tak ada kabar ditemukannya mayat wanita dalam kereta atu hal sejenisnya, dengan resah Mrs. McGillicuddy menuruti usulan Miss Marple untuk melaporkan hal ini kepada petugas polisi yang dikenalnya dan menunggu kabar selanjutnya. Lagi-lagi polisi tersebut tidak menemukan petunjuk sedikit pun mengenai mayat wanita di kereta maupun disekitar jalur kereta.

Miss Marple pun meyakinkan Mrs. McGilliCuddy yang hendak menuju India, agar tenang saja dan menyerahkan segala urusan ini kepada Polisi. Sedangkan Miss Marple diam-diam memperkirakan dimana sebenarnya mayat itu disembunyikan. Miss Marple berulang kali naik kereta dari Paddington pukul 4:50.

Kemudian untuk menjalankan penyeledikannya, Miss Marple memperhitungkan beberapa kenalannya untuk membantu, karena dirinya terlalu tua untukk melakukan segalanya sendiri. Salah satu orang kepercayaannya adalah Lucy Eyelesbarrow, seorang pembantu rumah tangga profesional yang cerdas dan ahli dibidangnya. Bagaimanakah upaya Miss Marple dan Lucy dalam menyelidiki keberadaan mayat berikut pelaku pembunuhan tersebut?

Cerita karya Agatha Christie yang satu ini sangat direkomendasikan bagi para pembaca. Buku ini mampu membawa pembaca terhanyut dalam penyelidikian yang mungkin terlihat amatir dan sederhana namun mengena. Berbagai karakter yang hadir kuat dengan karakternya, dan kemampuan Miss Marple dalam menemukan kesamaan karakter para tokoh yang ada dengan orang-orang yang dikenalnya di desa sangat menyenangkan untuk disimak.