The Wolverine (2013) – Movie Review

Logan yang kini menyendiri di hutan, terus dihantui mimpi masa lalunya akan Jean Grey dan juga sedikit kenangan saat dirinya terperangkap di Jepang pada era Perang Dunia II.

wolverine

Suatu ketika dirinya dijemput seorang wanita Jepang bernama Yukio, yang mengajaknya untuk bertemu dengan mantan perwira Jepang, Yashida, yang dulu pernah Logan selamatkan pada masa Perang Dunia II tersebut.

Dikatakan bahwa Yashida sedang sekarat dan ingin mengucapkan salam perpisahan. Logan pun dengan terpaksa berangkat menuju kediaman di Jepang. Setibanya di rumah megah milik, tampak sedang sekarat ternyata memiliki maksud lain. Ingin menukar ke-imortalan Logan dengan dirinya yang kini sekarat. Bagaimanakah Logan menanggapi tawaran tersebut?

Film Wolverine yang kedua ini kini hadir dengan cerita yang lebih sederhana dan sedikit tertebak. Namun dari segi action, memang benar, patut diacungi jempol. Film ini juga menghadirkan penampilan perdana dari dua model asal Jepang , Rila Fukushima dan Tao Okamoto yang mampu mengimbangi akting dari aktor kawakan, Hugh Jackman. Diakhir film setelah kredit, seperti biasa tampak satu scene yang memberi gambaran film lanjutan dari film the Wolverine ini.

Genre: Action, Thriller
Director: James Mangold
Cast:
Hugh Jackman sebagai Logan
Tao Okamoto sebagai Mariko
Rila Fukushima sebagai Yukio
Hiroyuki Sanada sebagai Shingen
Hal Yamanouchi sebagai Yashida
Ken Yamamura sebagai Yashida muda
Svetlana Khodchenkova sebagai Viper
Famke Janssen sebagai Jean Grey


Last Cinderella (2013) – Drama Review

Sakura seorang penata rambut di sebuah salon terkemuka di Jepang, kini mendekati usia 40 tahun, masalahnya adalah sampai saat ini dirinya belum juga menikah dan masih single. Dua orang teman dekatnya, Miki yang sudah berkeluarga dan memiliki dua anak, dan Shima yang kini melajang setelah bercerai adalah satu-satunya kehidupannya di luar salon.

lastcinderella

Saat terdengar gosip-gosip bahwa Sakura akan dijadikan sebagai manajer salon tersebut, seorang pria, saingan Sakura sejak dulu tiba di salon tersebut dengan membawa surat keputusan bahwa dirinya, yang bernama Tachibana, adalah manajer salon yang baru dan Sakura adalah wakilnya. Seketika suasan di salon pun berubah ramai akibat Sakura dan Tachibana yang selalu ribut seperti anak kecil. Tak lama setelah itu, Chiyoko, pelanggan salon tersebut menawarkan Sakura untuk mengikuti acara Speed Dating bersama dirinya, dengan harapan Sakura mendapatkan pacar di sana. Sakura pun menerima undangan tersebut dengan semangat.

Namun dibalik senyum manis Chiyoko, dia merencanakan sesuatu terhadap Sakura yang polos, agar Tachibana menjauh dari Sakura. Apakah rencana tersebut?
Akankah Sakura yang sudah terbilang tidak muda lagi bisa mendapatkan pasangan di acara tersebut?

Satu lagi J Dorama yang baru saja tamat di Jepang beberapa minggu lalu. Ceritanya ringan, namun dibumbui dengan akting komikal para tokoh. Satu wanita dua pria, dan seorang wanita lain yang mengharapkan salah satu pria tersebut, hingga menjelang akhir belum bisa diketahui pria manakah yang akan mendampingi Sakura. Tidak hanya itu, kehidupan pribadi Miki dengan suami dan mertuanya, lalu kehidupan pribadi Shima juga menjadi pelengkap yang tak kalah menghibur di drama ini.

Genre: J Dorama, Drama, Jepang, Komedi, Romantis
Episodes: 11
Director: Tanaka Ryo, Hirano Shin, Sekino Munenori
Cast:
Ryoko Shinohara sebagai Sakura Toyama
Naohito Fujiki sebagai Rintaro Tachibana
Haruma Miura sebagai Hiroto Saeki
Nanao sebagai Chiyoko Ogami
Nene Otsuka sebagai Miki Takenouchi
Shozo Endo sebagai Kohei Takenouchi
Naoko Iijima sebagai Shima Hasegawa

 

 


1Q84 (2009) – Book Review

Tengo adalah seorang guru  matematika di sebuah tempat bimbingan belajar SMA di Tokyo yang juga berprofesi sebagai penulis lepas sembari mengirimkan novel-novel buatannya untuk diikutsertakan dalam sayembara penulis amatir.

Aomame adalah seorang pelatih di sebuah pusat kebugaran,  memiliki profesi rahasia yang hanya diketahui segelintir orang, profesi yang berkaitan dengan keadilan wanita.

murakami 1q84

Keduanya berusia 30 tahun, keduanya menjalani kesehariannya secara rutin, keduanya terpisah jarak dan tidak menyadari keberadaan mereka satu sama lain. Namun perlahan tapi pasti mereka diseret ke dalam satu dunia yang saling berhubungan, yang akan mengubah rutinitas dan kehidupan mereka.

Dimulai ketika Tengo diminta untuk membantu penulisan sebuah novel karya seorang gadis cantik berusia 17, yang pendiam dan misterius, dan ketika Aomame menjalankan suatu misi yang mengharuskannya berjalan kaku turun dari sebuah jalan bebas hambatan yang padat merayap.

Apakah yang membuat dunia mereka berubah, dan apakah hubungan kedua tokoh yang menjalani kehidupan yang jauh berbeda ini?

Karya terbaru Haruki Murakami yang sudah diterjemahkan ini menjadi salah satu karyanya yang banyak direkomendasikan para pecinta buku. Buku 1Q84 ini mampu menyajikan kehadiran dua tokoh utamanya secara seimbang dengan membagi dua chapter-chapter di dalamm buku, satu chapter untuk Tengo, satu chapter untuk Aomame.

Ceritanya tidak biasa, namun dijabarkan dengan detail sehingga pembaca dapat membayangkan dengan mudah seakan cerita unik ini adalah hal biasa. Tokoh-tokoh yang turut meramaikan buku ini pun memiliki karakter yang unik dan kuat. Sayangnya sebagaimana kebiasaan para penulis asal Jepang, akhir cerita pada buku ini dibuat agak menggantung, untuk memberikan kesempatan pada pembaca untuk memikirkan bagaimana ending seharunya yang mereka inginkan. Despite of that, buku ini adalah karya yang mampu menghipnotis pembacanya terbawa ke dunia 1Q84 🙂

Genre: novel, fiksi, Jepang
Penulis: Haruki Murakami


Norwegian Wood (1987) – Book Review

Watanabe Toru usia 37 tahun sedang berada di pesawat menuju Hamburg, Jerman, ketika mendengar lantunan orkestra lagu Norwegian Wood menjadi teringat masa mudanya, ketika berusia hampir 20 tahun. Sebagai seorang mahasiswa Fakultas Sastra dengan jurusan Drama di sebuah Universitas Swasta di Tokyo. Ia seorang mahasiswa pendiam yang tidak memiliki teman dekat, karena teman dekat satu-satunya, Kizuki, telah mengakhiri hidupnya di usia 17 tahun, tepat setelah mereka mengabiskan waktu senggang untuk bermain biliyar.

norwegian wood

Kehidupan Watanabe di masa kuliahnya berjalan datar dan biasa saja, hingga suatu hari dirinya tak sengaja bertemu dengan Naoko, pacar sahabatnya dulu. Semenjak itu, mereka berdua selalu bertemu seminggu sekali, Watanabe memang sedikit memendam rasa kepada gadis cantik yang pendiam itu.  Tapi kebahagiaan itu tidak berlangsung lama, Naoko cuti kuliah dan memutuskan untuk menenangkan diri, Watanabe pun kembali kesepian, hanya berkirim surat dengan Naoko sesekali. Kemudian datanglah sosok Midori yang ceria, yang penuh dengan semangat dikehidupan Watanabe. Kini Watanabe berada di sebuah posisi yang sulit, antara masa lalu dan masa kini, yang manakah yang akan Watanabe pilih?

Satu lagi novel karya Haruki Murakami yang mampu menghipnotis pembacanya ke era 60an karena kehidupan mahasiswa di Jepang tergambar secara detail. Bagi yang sebelumnya sudah membaca buku yang berisikan kumpulan cerpen karya Murakami-san yang berjudul Blind Willow, Sleeping Woman, pastinya merasa sudah pernah membaca novel ini. Hal tersebut karena Norwegian Wood ini merupakan perpanjangan cerita dari cerpen yang berjudul Fireflies yang terdapat pada buku Blind Willow, Sleeping Woman.

Alur cerita berjalan nyaman, dan terarah, banyak masukan mengenai musik-musik dan juga buku yang dibaca baik oleh Watanabe maupun yang dilantunkan oleh Reiko, mentor dari Naoko yang hobi memainkan Gitar. Satu lagi kebiasaan Murakami adalah, ending yang sedikit membuat pembacanya berpikir, agak sedikit mengambang dan penuh tanda tanya. Namun konon katanya, hal tersebut sengaja dilakukan untuk memberikan kebebasan kepada membaca dalam menentukan endingnya, setelah dibaca, cerita tersebut adalah milik pembaca, begitu katanya.

Genre: Fiksi, Drama, Romance
Penulis: Haruki Murakami


Kafka on the Shore (2002) – Book Review

Genre: Fiksi, Literatur, jepang, Novel
Penulis: Haruki Murakami
Penerjemah: Philip Gabriel

“In English, there’s this expression, ‘red herring’. Something that’s very interesting but leads you astray from the main topic” – Oshima

Buku yang menceritakan tentang seorang anak laki-laki berusia 15 tahun yang melarikan diri dari rumah yang Ia huni bersama ayahnya. Ia menamakan dirinya Kafka Tamura. Kafka lahir di keluarga yang bisa dikatakan kaya raya, namun ibu dan kakak perempuannya meninggalkan dirinya dan ayahnya saat Kafka masih berusia empat tahun.

kafka

Tidak ada ingatan mengenai bagaimana wajah ibunya, yang tersisa hanya fotonya bersama kakak perempuannya di pinggir pantai saat dirinya berusia sekitar tiga tahun.

Hubungannya dengan ayahnya biasa saja, tidak baik tidak juga buruk, itdu mungkin disebabkan oleh kesibukan ayahnya sebagai seorang scluptor dan profesor seni. Kafka dapat dikatakan tinggi untuk remaja berusia 15 tahun, Ia memastikan dirinya tampak lebih tua dari umurnya, Ia melatih otot-ototnya, berolahraga sejak beberapa tahun lalu mempersiapkan hari besar ini, tepat menjelang hari ulang tahunnya yang ke lima belas.

Dengan membawa beberapa uang dari meja kerja ayahnya serta satu ransel perlengkapan sehari-hari yang ia butuhkan, Kafka meninggalkan Tokyo menuju barat, sebuah pulau yang dihubungkan dengan sebuah jembatan besar, Shikaku namanya.

Dilain pihak, Nakata-san, seorang laki-laki paruh baya yang tidak bisa membaca maupun menulis namun dikenal sebagai ahlinya mencari kucing yang hilang, perlahan berubah. Keahliannya berbicara dengan kucing membantu dirinya menemukan kucing-kucing yang hilang, dengan upah yang lumayan sehingga dirinya dapat menyantap belut kesuakaan, Nakata menjalani harinya dengan tenang. Semuanya berjalan seperti biasa, hingga suatu hari kasus hilangnya kucing peliharaan keluarga Koizumi, bernama Goma yang membawanya pada satu permasalahan pelik, yang mengubah hidupnya untuk selamanya.

Bagaimanakah petualangan Kafka di Shikoku? Perubahan seperti apa yang dialami Nakata? Sebagaimana biasanya cerita karangan Haruki Murakami, setiap tokoh yang pada bagian awal buku tampak tidak saling berhubungan dalam proses menuju akhirnya kemungkinan besar akan berkaitan, baik langsung maupun tidak. Pada bagian awal buku semua cerita tampak dekat dengan kehidupan sehari-hari pembaca, tidak ada hal yang dirasa sedikit nyeleneh.

Namun seiring dengan dibaliknya halaman buku ini, perlahan kenyelenehan khas Murakami mulai tampak, beberapa hal yang benar-benar fiksi dimunculkan pada cerita ini, namun entah kenapa bisa dikatakan masih masuk diakal. Pembelajaran dimulai dari sejarah, pengetahuan filosofi, serta pandangan-pandangan yang bervariasi tentang hidup, pencarian jati diri hadir pada buku ini.

Membuat pemabaca sering mengutip kalimat-kalimat yang dirasa dekat dengan pengalamannya serta pandangannya tentang suatu hal. Pada buku ini melalui tokoh Oshima, seorang penjaga perpustakaan yang cerdas, hadir teori-teori dan kalimat yang sangat menarik untuk dikutip.

“but people need to cling to something, they have to. You’re doing the same, even though you don’t realise it. It’s as Goethe said: everything is a metaphore.” – Oshima

 

Ya, seperti itulah ciri khas dari Penulis novel dan cerita pendek asal Jepang yang telah banyak menerima penghargaan ini, karya-karyanya selalu membuat berpikir, dan penasaran serta ketagihan ingin membaca lagi karya-karya lainya dari sang novelis.

“It’s all a question of imagination. Our responsibility begins with the power to imagine. It’s just as Yeats said: In dreamsbegin responsibility.” – Oshima

 


Blind Willow Sleeping Woman (2006) – Book Review

Genre: Fiksi, Literatur, Jepang
Penulis: Haruki Murakami

Buku yang berisikan dua puluh enam cerita pendek yang ditulis sejak tahun 1995 hingga 2005, dengan berbagai tema dan jenis cerita. Dimulai dari cerpen yang berjudul sama dengan buku ini, Blind Willow Sleeping Woman, sebuah cerpen yang menceritakan ‘Aku‘ yang sedang mengantarkan sepupunya untuk melakukan check up di sebuah Rumah Sakit di dekat sekolahnya beberapa tahun lalu.
blind willow sleeping woman
Saat tiba di Rumah Sakit tersebut ‘Aku’ teringat tentang pengalamannya semasa sekolah bersama seorang temannya, datang ke Rumah Sakit yang sama, mengunjungi kekasih temannya tersebut. Selama kunjungannya, sang pacar temannya menggambarkan mimpinya pada sebuah tisu, seraya menceritakan mimpinya tersebut, mengenai seorang wanita yang tertidur dan pohon willow.

Kabarnya cerita ini terinspirasi dari mimpi yang dialami istri Murakami-san. Menceritakan dua kisah dalam satu cerita, saling berhubungan tetapi berbeda makna, sepertinya merupakan ciri khas dari Haruki Murakami.

Kemudian, cerpen ini diikuti sebuah cerpen epik yang sering dibahas para penggemar Murakami, Birthday Girl. Mengisahkan seorang wanita yang sedang menceritakan masa lalunya, sebagai gadis yang berulang tahun ke dua puluh dan mendapat kesempatan untuk membuat satu harapannya terkabul.

Cerpen ini tidak mengambil sudut pandang si wanita, tapi sudut pandang ‘Aku’ seorang pria yang mendengar cerita dari wanita tersebut. Apa yang sering dibahas dari cerpen ini adalah apakah gerangan yang diharapkan dari si gadis yang berulang tahun itu? Suatu misteri yang cocok menjadi bahan diskusi dan melekat kuat dibenak pembaca dibanding cerpen-cerpen lainnya.

Kemudian ada juga cerpen yang berjudul Poor Aunt, ini merupakan cerpen terpanjang di buku ini. Mengisahkan ‘Aku’ yang ingin sekali menulis sebuah cerita tentang ‘bibi yang malang’, sosok wanita yang hampir selalu ada di setiap keluarga, walaupun ‘Aku’ sendiri tidak memilikinya. Hal tersebutlah yang membuat ‘Aku’ berpikir keras mengenai apa yang akan Ia tulis, lalu kejadian tak terduga mulai menghmpirinya berkaitan dengan ‘bibi yang malang’.
Entah unsur mistis atau keajaiban alam yang hadir dalam cerita ini, yang pasti suatu hal yang tidak biasa, yang orang-orang pada umumnya tidak memikirkannya terjadi. Tokoh ‘Aku’ pada cerpen ini sering berkutat dengn pemikirannya sendiri, entah kenapa menarik, tidak membosankan, suatu karakter yang unik, khas Murakami.

Selain itu terdapat juga cerita pendek yang sangat pendek berjudul The Year of Spaghetti, mengisahkan seorang pria yang menghabiskan waktunya untuk membuat spaghetti selama satu tahun di tahun 1971, dan bagaimana spaghetti ini dia jadikan alasan untuk mengalihkan suatu pembicaraan yang Ia benar-benar tak ingin terlibat.

Cerpen lainnya yang menarik untuk dibaca yaitu The Ice Man, mengisahkan seorang wanita pendiam yang menikahi seorang Ice Man, wujudnya manusia namun Ia tidak makan, badannya dingin dan tidak memiliki masa lalu. Dari sudut pandang orang lain, Ice Man tampak pendiam, tidak pernah bersosialisasi, tepat seperti ungkapan ice man, pria yang dingin.

Satu lagi short story dalam buku ini yang memberi kesan lebih, adalah The Kidney-Shaped Stone That Moves Everyday. Judul yang panjang ya?
Mengisahkan seorang penulis cerita pendek bernama Junpei. Ia meyakini suatu teori yang disebutkan ayahnya bahwa dalam kehidupan ini, seorang pria akan bertemu dengan tiga orang wanita yang benar-benar  berkesan dan penting untuknya, tidak kurang, tidak lebih. Mengingat pesan tersebut, Junpei sering menebak-nebak, mungkinkah wanita ini? Dalam cerpen ini pembaca diajak untuk melayang ke dalam pemikiran Junpei kedalam ingatannya.

Semua cerita pendek dalam buku ini memiliki kesan yang berbeda-beda, sangat unik dan epik. Beberapa cerita sering dijadikan bahan diskusi, entah karena ada makna tersembunyi dalam cerita tersebut, ataupun akhir yang sedikit nyeleneh, khas Murakami. Selain Blind Willow, Sleeping Woman ini, terdapat juga kumpulan cerpen karya Haruki Murakami yang berjudul, The Elephant Vanishes.


The Girl Who Leapt Through Time (2006) – Movie Review

Judul Asli: Toki o Kakeru Shojo
Genre: Anime, Komedi, Drama, Fiksi
Director: Mamoru Hosoda

the girl who leapt through time

Cast/Seiyuu:
Riisa Naka sebagai
Makoto Konno
Takuya Ishida sebagai
Chiaki Mamiya
Mitsutaka Itakura sebagai Kosuke Tsuda
Ayami Kakiuchi sebagai Yuri Hayakawa
Mitsuki Tanimura sebagai
Kaho Fujitani
Yuki Sekido sebagi Miyuki Konno

Menceritakan seorang gadis SMA tomboy bernama Makoto yang periang namun ceroboh, setiap hari selalu nyaris terlambat dan bersama kedua teman dekatnya Chiaki dan Kosuke setiap sore selalu berlatih baseball.

Suatu ketika, Makoto dapat mundur ke waktu sebelumnya, mengulang kembali waktu. Ia menyadari hal tersebut tepat saat rem sepedanya blong dan menerobos palang kereta api yang tertutup, Ia terpental tertabrak kereta, seharusnya demikian, tetapi Makoto justru terpental kembali ke beberapa menit sebelum kejadian tersebut.

Semenjak itu, Makoto selalu mencoba mengetes kemampuannya, dan semakin lama Makoto pun makin mahir mengendalikannya. Benarkah tak mengapa memutar balik waktu seperti itu terus, bagaimana kah efek samping dari kemampuan tersebut?

Film animasi yang diambil dari novel berjudul sama ini, memiliki unsur komedi yang kental namun pada begian akhir akan sedikit lebih serius. Kekonyolan Makoto dan kehidupan masa SMA di Jepang kerap menghibur penonton. Selain novel yang dibuat tahun 1976, film ini juga dibuat live action dengan versi cerita yang berbeda namun tetap dengan unsur yang sama gadis yang dapat melompati waktu.