Finding Mr. Destiny (2010) – Movie Review

Ji Woo seorang stage director pertunjukan teater yang cuek dan tomboi baru saja menolak lamaran kekasihnya yang seroang pilot angkatan udara. Menduga putri pertamanya masih mengingat cinta pertamanya, sang ayah pun memaksa putrinya ke sebuah biro jasa pencari cinta pertama, agar Ji Woo terlepas dari bayang-bayang pria yang dijumpainya saat berjalan-jalan ke India 10 tahun yang lalu.
Di sinilah petualang Ji Woo dan Gi Joon, si pemilik biro jasa yang lugu dan taat peraturan di mulai. Akankah Ji Woo menemukan cinta pertamanya?fbd15ef194990e6a1fd877d805f58028_VufXzYbql9Olyngl797Bv3NXRxG45Cto.jpg

Film ringan yang cocok dinikmati di akhir pekan yang santai, dengan menonjolkan dua karakter yang bertolak belakang, film ini sukses membuat penonton tergelak di beberapa scene. Sekilas pemandangan di Blue City, India pun juga menjadi nilai tambah dari film ini. Bagi pecinta kutipan film, ada cukup banyak kutipan tentang cinta pertama dan takdir yang bisa merenung dan tersentil di film ini.

You must grab onto faith to realize destiny

Genre: Comedy, Romantic, Korea
Director: Chang You Jeong
Cast:
Lim Soo Jung sebagai Seo Ji Woo
Gong Yoo sebagai Han Gi Joon
Lee Chung Ah sebagai Adik Gi Joon
Cheon Ho Jin sebagai ayah Ji Woo


Fast and Furious 6 (2013) – Movie Review

Lanjutan dari Fast and Furious 5, kini film keenamnya berjudul Furious 6, karena seperti namanya, lebih banyak aksi baku hantamnya dibanding aksi kebut-kebutannya. Dominic Toretto dan kawan kawan yang kini hidup damai dan santai dengan uang berlimpah mendapat kabar tak terduga dari Hobb. Kabar tersebut adalah kemunculan kembali Letty, kekasih Dom yang dulu diyakini telah meninggal karena kecelakaan.

fast furious 6

Kabar buruknya, Letty tampak bersama kelompok Shaw, komplotan penjahat internasional yang sedang dicari-cari. Untuk mendapatkan Letty kembali, Dom dan partnernya Brian O’Conner mengumpulkan kembali anggota timnya seperti Roman, Han, Gisele,dan Tej berenam plus Hobb dan Riley mereka berupaya mencari keberadaan persembunyian Shaw dan komplotannya.

Berhasilkah mereka menemukan Shaw dan membawa pulang Letty?

Film penuh aksi ini berhasil memukau para penonton dengan alur cerita yang tidak tertebak, dan adegan-adegan action yang dasyat. Tetap menampilkan aksi kejar kejaran dengan mobil super cepat di tengah kota, walaupun dengan porsi yang lebih sedikit dibanding film-film sebelumnya.

Kemudian bagi para penonton dari Indonesia, salah satu yang mencuri perhatian di film ini adalah kehadiran aktor laga asal Indonesia, Joe Taslim, yang mendapat peran cukup penting di film ini. Sebagai Jah, kaki tangan Shaw, Joe Taslim mendapatkan cukup banyak dialog dan angle. Bahasa Inggris yang baik dan tentu saja aksi bela dirinya yang sempat menjadi fokus utama di pertengahan scene membaut penonton berdecak kagum.

Bocoran untuk film ini, Jah sempat bermonolog dengan Bahasa Indonesia di awal film. Kemudian film ini kebanyakan bersetting di London dan Spanyol,
dan terakhir, tampaknya film Fast & Furious 6ini masih akan berlanjut ke Fast & Furious 7 dengan menampilan satu lagi aktor laga dari Hollywood.

Genre: Action, Crime, Thriller
Director: Justin Lin
Cast:
Vin Diesel sebagai Dominic Toretto
Paul Walker sebagai Brian O’Connor
Dwayne Hohnson sebagai Hobbs
Michelle Rodriguez sebagai Letty
Ttese Gibson sebagai Roman
Sung Kang sebagai Han
Gal Gadot sebagai Gisele
Ludacris sebagai Tej
Luke Evan sebagai Shaw
Gina Carano sebagai Tiley
Jordana Brwester sebagai Mia
Clara Paget sebagai Vegh
Elsa Pataky sebagai Elena
Johannes ‘Joe’ Taslim sebagai Jah
Kim Kold sebagai Klaus


The Interpreter (2005) – Movie Review

Genre: Thriller, Misteri, Drama
Director: Sydney Pollack
Cast:
Nicole Kidman sebagai Silvia Broome
Sean Penn sebagai Tobin Keller
Catherine Keener sebagai Dot Woods
Yvan Attal sebagai Philippe
Jesper Christensen sebagai Nils Lud
Earl Cameron sebagai Zuwanie
George Harris sebagai Kuman Kuman
Hugo Speer sebagai Simon Broome

the interpreter

Silvia Broome, seorang penerjemah di PBB (UN), tanpa sengaja mendengar bisikan dari ruang rapat PBB, mengenai rencana pembunuhan terhadap Presiden negara Matobo, salah satu negara di Afrika. Setelah mendengar hal tersebut, dirinya pun kini diteror dan diikuti orang tak dikenal, rumahnya dimasuki seseorang yang mengambil topeng Afrika di rumahnya dan mengenakannnya untuk meneror Silvia.

Petugas yang bertindak untuk mencegah upaya pembunuhan tersebut dan untuk melindungi Silvia adalah Tobin Keller. Tobin sangat skpetis dengan pernyataan Silvia dan berupaya menyelidiki masa lalu Silvia. Belum lagi dari hasil penyelidikannya tersebut cukup mengejutkan dan membuat Tobin masih menduga apakaha Silvia benar-benar korban ataukah justru dia lah tersangkanya?

Film suspens yang menegangkan ini sungguh sulit untuk ditebak, dan harus diikuti dengan seksama. Komplikasi masalah politik yang kental juga dihadirkan secara kentara di film ini disamping juga beberapa kebudayaan dan kepercayaan yang ada di Afrika. Salah satu kebudayaan yang mengena adalah seperti pada kutipan berikut:

Silvia Broome: Everyone who loses somebody wants revenge on someone, on God if they can’t find anyone else. But in Africa, in Matobo, the Ku believe that the only way to end grief is to save a life. If someone is murdered, a year of mourning ends with a ritual that we call the Drowning Man Trial. There’s an all-night party beside a river. At dawn, the killer is put in a boat. He’s taken out on the water and he’s dropped. He’s bound so that he can’t swim. The family of the dead then has to make a choice. They can let him drown or they can swim out and save him. The Ku believe that if the family lets the killer drown, they’ll have justice but spend the rest of their lives in mourning. But if they save him, if they admit that life isn’t always just… that very act can take away their sorrow.


The Perks of Being A Wallflower (2012) – Movie Review

Genre: Drama, Romantis
Director: Stephen Chboskythe perks of being a wall flower Cast:
Logan Lerman sebagai Charlie
Ezra Miller sebagai Patrick
Emma Watson sebagai Sam
Johnny Simmons sebagai Brad
Paul Rodd sebagai Mr. Anderson
Mae Whitman sebagai Mary Elizabeth
Melanie Lynskey sebagai bibi Helen

Charlie: Why do nice people choose the wrong people to date?
Mr. Anderson: Are we talking about anyone specific?
[Charlie nods]
Mr. Anderson: Well, we accept the love we think we deserve.
Charlie: Can we make them know that they deserve more?
Mr. Anderson: We can try.

Menceritakan seorang siswa SMA tahun pertama, Charlie, yang pendiam dan pemalu sehingga tidak mempuanyai teman satu pun, yang biasa disebut sebagai sosok ‘wallflower‘ di sekolah. Dalam kesehariannya Charlie menuliskan hari-harinya dan yang ada dalam pemikirannya dalam secarik kertas, seolah-olah diperuntukan untuk sahabatnya, Michael, yang meninggal karena bunuh diri.

 

Selama di sekolah Charlie selalu pasif bahakan di kelas yang dikuasainya, kelas Bahasa Inggris, Charlie selalu bisa menjawab dengan benar pertanyaan dari gurunya dengan menuliskan jawabannya di buku, tanpa berusaha mengangkat tangan dan menjawabnya langsung. Mr. Anderson, guru mata pelajaran tersebut mengetahuinya, dan mengetahui bakatnya dalam menulis, selalu meminjamkan beragam buku kepada Charlie.

Suatu ketika kehidupan Charlie berubah total, saat dirinya menyaksikan secara langsung pertandingan football, Charlie memberanikan diri mendekati Patrick, seorang senior yang sempat satu kelas dengannya. Kepribadian Patrick yang selalu cuek dan konyol ketika digoda anak-anak lain, membuat Charlie berani mendekat. Mujurnya Patrick menerimanya seperti biasa, dengan ceria, dan tak lama Sam, seorang gadis turut serta duduk bersama Charlie dan Patrick. Sam juga merupakan kakak kelas Charlie, dan tak lama diketahui, Sam dan Patrick adalah saudara tiri. Charlie pun kini menghabiskan waktunya bersama Sam dan Patrick, dikenalkan dengan teman-teman lainnya.

Namun, disela-sela kehidupannya sosialnya yang membaik, kilas ingatan masa lalunya, masa kecilnya, bibi Helen sering datang manghampiri, belum lagi, diam-diam perasaannya terhadap Sam menguat, bagaimanakah Charlie menghadapi semua itu?

the perks of being a wall flower quote

Film yang diangkat dari buku yang berjudul sama, menghadirkan gambaran kehidupan siswa SMA di Amerika di era awal 90an. Alur ceritanya tidak bisa ditebak, beberapa klimaks dan anti klimaks hadir naik turun dari pertengahan hingga akhir. Akhir cerita yang mungkin sudah sempat terpikirkan oleh penonton, tapi disertai suatu fakta yang tidak dapat diduga. Akting matang dari Logan Lerman, Ezra Miller dan Emma Watson juga mampu menyentuh emosi penonton. Menariknya lagi, film ini disutradarai dan ditulis skenarionya oleh sang penulis buku, Stephen Chbosky, tak heran film ini ditampilkan tak jauh berbeda dengan bukunya. Sound tracknya pun enak di dengar, dan banyak rekomendasi lagu-lagu, buku, dan juga film lama dari film ini.


Finding Nemo (2003) – Movie Review

Genre: Animasi, Film keluarga, Fiksi, komedi
Director: Andrew Stanton dan Lee Unkrich
Cast (voice):
Albert Brooks sebagai Marlin
Ellen DeGeneres sebagai Dory
Alexander Gould sebagai Nemo
Willem Dafoe sebagai Gill
Brad Garrett sebagai Bloat

Mengisahkan seekor ikan badut (clown fish) yang bernama Marlin yang baru saja kehilangan anaknya yang bernama Nemo. Nemo hilang akibat Marlin yang selalu mengekangnya, dan melarang Nemo untuk bermain terlalu jauh, Marlin sendiri tak pernah jauh-jauh dari tempat tinggalnya sekarang ini.

finding nemo

Dalam petualangannya mencari anaknya tersebut, Marlin berjumpa dengan berbagai jenis ikan dan hewan laut lainnya, dari ikan hiu hingga penyu laut dan anak-anaknya. Dengan ditemani Dory, si ikan biru pelupa yang selalu menyemangati Marlin, Marlin berjuang mencari Nemo. Berhasilkah Marlin dan Dory mencari Nemo?

Film produksi Disney-Pixar ini memberikan banyak pelajaran sehingga sangat cocok ditonton bersama keluarga, petualangan Marlin dan Dory yang menjelajah lautan ini juga sangat menghibur karena mampu menghadirkan berbagai jenis hewan laut yang unik.
Film Finding Nemo ini saat ini sedang dalam proses dibuat sekuelnya yang berjudul Finding Dory, yang akan rilis November 2015.

 


Interview with the Vampire (1994) – Movie Review

Genre: Horror, Drama, Fiksi, Vampir
Director: Neil Jordan
Cast:
Brad Pitt sebagai Louis
Tom Cruise sebagai Lestat
Christian Slater sebagai Daniel Malloy (reporter)
Kirsten Dunst sebagai Claudia
Antonio Banderas sebagai Armand

Interview With the Vampire

Suatu ketika seorang reporter bertemu dengan seorang pria misterius yang diduga orang-orang sebagai vampir, kepada reporter tersebut, vampir yang bernama Louis ini menceritakan kisahnya, 200 tahun silam.
Louis yang ketika itu baru saja kehilangan isteri dan anak yang dilahirkan isterinya, menjalani kehidupannya dengan tidak semangat. Ketika itulah Louis bertemu dengan Lestat, yang kemudian menawarkannya untuk menjadi vampir, menjadi partnernya sebagai vampir.

Louis pun menjadi vampir namun sayang, tak ada perubahan baginya, hidupnya tetap saja hambar dan tak bersemangat, sebagai inisiatif untuk menyemangati Louis, Lestat pun menjadikan seorang gadis berusia 6 tahun yang ditemukannya disebelah mayat ibunya, seorang vampir.

Gadis itu diberi nama Claudia, gadis itu tidak mengingat sama sekali yang terjadi pada dirinya, bertiga mereka hidup bersama menjalani hari-harinya menjadi vampir di pust kota. Namun kedamaian tersebut tidak bertahan lama, 30 tahun kemudian, Claudia yang tetap dalam tubuh anak berusia 6 tahun merasa marah karena tidak dapat tumbuh dewasa, Ia pun merencanakan pembunuhan terhadap Lestat, yang semena-mena dan kasar. Bagaimanakah rencana Claudia tersebut berlangsung? Akankah Louis yang lembut tinggal diam?

Film drama ini memiliki unsur cerita yang rumit, bagaimana seorang vampir yang ingin menjaga persahabatan, pencarian cinta, upayanya untuk mencari semangat hidup, serta penemuan dunia lain yang jauh berbeda dari Ia biasa hadapi. Cerita yang bersetting di tahun 1791 lalu kembali ke tahun 1991 ini diambil dari novel yang berjudul sama, karya Anna Rice pada tahun 1976.

manga

Uniknya pada awalnya, Anna Rice kurang setuju akan keputusan produser untuk menempatkan Tom Cruise sebagai pemeran Lestat, menurutnya sosok Rutger Hauer lebih sesuai, namun setelah melihat film ini dirilis, Anna Rice mengakui bahwa usaha Tom Cruise berhasil dan membuktikan dugaan Anna salah. Film ini pada tahun 1004, diadaptasi menjadi sebua manga Jepang oleh Udoh Shinohara dan dibuat berseri pada majalah komik Animage dan Chara Comics.


Silver Linings Playbook (2012) – Movie Review

Genre: Romantic, Drama, Comedy
Director: David O. Russel
Cast:
Bradley Cooper sebagai Patrick Solitano, Jr.
Jennifer Lawrence sebagai Tiffany
Robert De Niro sebagai Patrick Solitano, Sr.
Jacki Weaver sebagai Dolores
Chris Tucker sebagai Danny
Anupam Kher sebagai Dr. Cliff Patel
John Ortiz sebagai Ronnie
Julia Stiles sebagai Veronica
Brea Bee sebagai Nikki

Silver Linings PlaybookPatrick Solitano, Jr., guru sebuah SMA baru saja dibebaskan bersyarat dari rumah sakit perawatan mental, kembali ke rumah orang tuanya di Philladelpia.
Pat berada di rumah sakit tersebut selama delapan bulan akibat tindakan kekerasan yang Ia lakukan kepada seorang guru sejarahg di ketika Ia memergoki guru tersebut berselingkuh dengan istrinya Nikki. Pat sikatakan mengidap bipolar disorder.

Pat pun tidak diijikan mendekati Nikki dan guru sejarah tersebut dalam radius lima kaki. Kejadian tersebut menyebabkan Pat trauma terhadap beberapa hal dan membuatnya terobsesi pada Nikki, membaca buku-buku yang digunakan Nikki untuk mengajar dan melakukan apapun yang menurutnya dapat membuat Nikki kembali padanya.

Suatu ketika, Pat diundang makan malam oleh temannya, Ronny dan Veronica, yang juga teman Nikki, di sana Pat dikenalkan pada Tiffany, adik Veronica. Tiffany baru saja menjanda karena suaminya yang berprofesi sebagai polisi meninggal dunia. Tiffany dikenal sebagai sosok wanita yang eksentrik, mengatakan apa yang ingin Ia katakan. Pertemuan mereka pada malam itu pun diakhiri dengan sedikit adu mulut.

Keesokan harinya mereka bertemu kembali secara tidak sengaja karena Pat yang setiap hari jogging, melewati rumah Tiffany. Bagaimanakah nasib Pat? Apakah pertemuannya dengan Tiffany akan mempengaruhi kehidupannya? Akankah Nikki kembali kepada Pat?

Film yang meraih banyak penghargaan ini memang sangat menarik untuk ditonton. Segi cerita yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, menyorot hubungan pertemanana, kakak-adik, serta ayah dan anak. Bagaimana Pat yakin dengan adanya silverlining di setiap awan itu. Ia menjalani harinya dengan optimis,lalu sedikit sisi komedi yang tidak dengan gamblang ditujukan sebagai komedi, sangatlah menghibur. Di film ini penonton juga dapat melihat aktor asal India, Anupam Kher, yang mungkin tampak familiar bagi kalian yang sering menyaksikan drama India di era 90an. Dan bagi para pria, akting Jennifer Lawrence di sini sangatlah total, dan chemistrynya dengan Bradley Cooper pun sangat kuat pada film ini.