Mockingjay (2010) – Book Review

Katniss Everdeen terbangun di distrik 13 setelah kekacauan yang terjadi di perhelatan Hunger Games yang ke 75, tau yang sering disebut sebagai Quarter Quell ketiga.

image

Kini terungkap bahwa sebagian besar dari sekutunya di arena Hunger Games lalu itu telah diam-diam sepakat untuk melakukan sabotase dan pembelotan untuk segera lolos ke distrik 13 yang selama ini  masih belum di ketahui jelas keadaannya.
 
Distrik 13 terdiri atas masyarakat dari berbagai distrik yang bersatu  untuk mengahancurkan pemerintahan Capitol.  Kini mereka membutuhkan kerjasama Katniss untuk membantu pergerakan tersebut.

Sisi baiknya ibu Katniss dan juga adiknya, Prim, serta teman terdekatnya, Gale, saat ini sudah berkumpul bersamanya di sana. Namun kabar buruknya, Haymitch, mentornya di kala Hunger games, gagal menyelamatkan Peeta, yang kini tidak diketahui bagaimana keadaanya di tangan Capitol. Akankah Katniss setuju dengan permintaan distrik 13 untuk menjadikannya ikon pemberontakan dan turun tangan dalam perlawanan terhadap Capitol, bagaimana keadaan Peeta dan bagaimana hubungan Katniss dengan Gale dan Peeta?

Buku terakhir dari trilogi the Hunger Games ini menghadirkan alur cerita maju yang menegangkan, dengan banyak klimaks di beberapa puluh halaman terkahir, hingga akhirnya menyuguhkan suati ending yang membuat pembacanya menahan napas.

Genre: adventure, fantasy, fiksi, action
Penulis: Suzanne Collins
Trilogi: The Hunger Games (1), Catching Fire (2), Mockingjay (3)


Catching Fire (2009) – Book Review

Setelah keluar sebagai pemenang The Hunger Games ke 74, hari-hari Katniss Everdeen dan Peeta Mellark semakin padat dengan kegiatan berkeliling distrik di negeri Panem yang dinamakan Victory Tour.

catching fire hunger games

Kehidupan ekonomi keduanya meningkat drastis dan keluarga mereka pun pindah di tempat yang lebih baik. Dalam Victory tour tersebut, sempat tersiar isu-isu pemberontakan dan menjadikan Ktniss sebagai ikonnya. Belum lagi tanpa sengaja Katniss bertemu dengan dua warga distrik 8 yang melarikan diri, yang membulatkan tekad untuk menjamah distrik 13, yang hingga saat ini diragukan keberadaannya.

Namun sayangnya sandiwara keduanya sebagai sepasang kekasih harus terus berlanjut, sementara Katniss masih memiliki hati terhadap Gale, dan terus bertemu dengannya secara sembunyi-sembunyi. Tapi rahasia tersebut tak bertahan lama, sesaat sebelum pengumuman Hunger Games ke 75, Presiden Snow, mengunjungi Katniss dan memperingatkannya akan Gale. Katniss harus terus menjalani sandiwaranya sebagai pasangan dari Peeta.

Ada sesuatu yang berbeda dari Hunger Games ke 75 ini, setiap 25 tahun sekali Quarter Quell diadakan. Sistemnya adalah para 24 pemenang dari tahun-tahun sebelumnya diadu kembali di arena. Katniss dan Peeta pun kini harus kembali beradu di arena bersama peserta lainnya. Namun kali ini berbeda, Katniss mengukuhkan niatnya untuk membuat Peeta menjadi pemenang, meskipun itu berarti harus mengorbankan dirinya sendiri. Bagaimanakah Hunger Games Quarter Quell ketiga ini akan berlangsung? Sanggupkan Katniss mewujudkan niatnya?

Buku kedua dari trilogi The Hunger Games ini dibagian awal masih berjalan lambat mengisahkan kehidupan sehari-hari Katniss dan Peeta pasca Hunger Games. Tutur penceritaan dengan sudut pandang Katniss sebagai orang pertama ini, kemudian perlahan-lahan mempercepat temponya,dibagian tengah buku. Kesan segar pada buku ini perlahan muncul bersamaan dengan kemunculan beberapa tokoh baru dengan karakter yang kuat seperti Finnick, Mags, Johanna, Beetee, dan Wires. Bagian akhir buku ini dibuat sedikit menggantung dan memaksa pembaca untuk segera melanjutkan membaca buku terakhir dari trilogi ini, Mockingjay.

Saat ini Catching Fire sedang dalam proses pembuatan filmnya, setelah tahun lalu The Hunger Games telah ditayangkan diberbagai bioskop di penjuru dunia. Tetap dengan Jennifer Lawrence sebagai Katniss dan Josh Hutcherson sebagai Peeta, tentunya dengan beberapa aktor baru untuk membintangi para pemenang Hunger Games di tahun sebelumnya.

Genre: Fantasy, Adventure, Action
Penulis: Suzanne Collins
Trilogi: The Hunger Games (1), Catching Fire (2), Mockingjay (3)


1Q84 (2009) – Book Review

Tengo adalah seorang guru  matematika di sebuah tempat bimbingan belajar SMA di Tokyo yang juga berprofesi sebagai penulis lepas sembari mengirimkan novel-novel buatannya untuk diikutsertakan dalam sayembara penulis amatir.

Aomame adalah seorang pelatih di sebuah pusat kebugaran,  memiliki profesi rahasia yang hanya diketahui segelintir orang, profesi yang berkaitan dengan keadilan wanita.

murakami 1q84

Keduanya berusia 30 tahun, keduanya menjalani kesehariannya secara rutin, keduanya terpisah jarak dan tidak menyadari keberadaan mereka satu sama lain. Namun perlahan tapi pasti mereka diseret ke dalam satu dunia yang saling berhubungan, yang akan mengubah rutinitas dan kehidupan mereka.

Dimulai ketika Tengo diminta untuk membantu penulisan sebuah novel karya seorang gadis cantik berusia 17, yang pendiam dan misterius, dan ketika Aomame menjalankan suatu misi yang mengharuskannya berjalan kaku turun dari sebuah jalan bebas hambatan yang padat merayap.

Apakah yang membuat dunia mereka berubah, dan apakah hubungan kedua tokoh yang menjalani kehidupan yang jauh berbeda ini?

Karya terbaru Haruki Murakami yang sudah diterjemahkan ini menjadi salah satu karyanya yang banyak direkomendasikan para pecinta buku. Buku 1Q84 ini mampu menyajikan kehadiran dua tokoh utamanya secara seimbang dengan membagi dua chapter-chapter di dalamm buku, satu chapter untuk Tengo, satu chapter untuk Aomame.

Ceritanya tidak biasa, namun dijabarkan dengan detail sehingga pembaca dapat membayangkan dengan mudah seakan cerita unik ini adalah hal biasa. Tokoh-tokoh yang turut meramaikan buku ini pun memiliki karakter yang unik dan kuat. Sayangnya sebagaimana kebiasaan para penulis asal Jepang, akhir cerita pada buku ini dibuat agak menggantung, untuk memberikan kesempatan pada pembaca untuk memikirkan bagaimana ending seharunya yang mereka inginkan. Despite of that, buku ini adalah karya yang mampu menghipnotis pembacanya terbawa ke dunia 1Q84 🙂

Genre: novel, fiksi, Jepang
Penulis: Haruki Murakami


Norwegian Wood (1987) – Book Review

Watanabe Toru usia 37 tahun sedang berada di pesawat menuju Hamburg, Jerman, ketika mendengar lantunan orkestra lagu Norwegian Wood menjadi teringat masa mudanya, ketika berusia hampir 20 tahun. Sebagai seorang mahasiswa Fakultas Sastra dengan jurusan Drama di sebuah Universitas Swasta di Tokyo. Ia seorang mahasiswa pendiam yang tidak memiliki teman dekat, karena teman dekat satu-satunya, Kizuki, telah mengakhiri hidupnya di usia 17 tahun, tepat setelah mereka mengabiskan waktu senggang untuk bermain biliyar.

norwegian wood

Kehidupan Watanabe di masa kuliahnya berjalan datar dan biasa saja, hingga suatu hari dirinya tak sengaja bertemu dengan Naoko, pacar sahabatnya dulu. Semenjak itu, mereka berdua selalu bertemu seminggu sekali, Watanabe memang sedikit memendam rasa kepada gadis cantik yang pendiam itu.  Tapi kebahagiaan itu tidak berlangsung lama, Naoko cuti kuliah dan memutuskan untuk menenangkan diri, Watanabe pun kembali kesepian, hanya berkirim surat dengan Naoko sesekali. Kemudian datanglah sosok Midori yang ceria, yang penuh dengan semangat dikehidupan Watanabe. Kini Watanabe berada di sebuah posisi yang sulit, antara masa lalu dan masa kini, yang manakah yang akan Watanabe pilih?

Satu lagi novel karya Haruki Murakami yang mampu menghipnotis pembacanya ke era 60an karena kehidupan mahasiswa di Jepang tergambar secara detail. Bagi yang sebelumnya sudah membaca buku yang berisikan kumpulan cerpen karya Murakami-san yang berjudul Blind Willow, Sleeping Woman, pastinya merasa sudah pernah membaca novel ini. Hal tersebut karena Norwegian Wood ini merupakan perpanjangan cerita dari cerpen yang berjudul Fireflies yang terdapat pada buku Blind Willow, Sleeping Woman.

Alur cerita berjalan nyaman, dan terarah, banyak masukan mengenai musik-musik dan juga buku yang dibaca baik oleh Watanabe maupun yang dilantunkan oleh Reiko, mentor dari Naoko yang hobi memainkan Gitar. Satu lagi kebiasaan Murakami adalah, ending yang sedikit membuat pembacanya berpikir, agak sedikit mengambang dan penuh tanda tanya. Namun konon katanya, hal tersebut sengaja dilakukan untuk memberikan kebebasan kepada membaca dalam menentukan endingnya, setelah dibaca, cerita tersebut adalah milik pembaca, begitu katanya.

Genre: Fiksi, Drama, Romance
Penulis: Haruki Murakami


From Paddington 4:50 (1957) – Book Review

Genre: Misteri, Detektif, Novel, Fiski, Kriminal
Penulis: Agatha Christie

Mrs. McGillicuddy baru saja berbelanja kebutuhan Natal di London, dalam perjalanannya untuk kembali ke desanya St. Mary Mead dengan kereta pukul 4:50, suatu hal yang tak terduga mengagetkannya. Tepat ketika keretanya berdampingan dengan kereta lain, Mrs. McGillicuddy melihat adegan seorang pria yang memunggungi jendela kereta sedang mencekik seorang wanita hingga ambruk.

from paddington 4.50

Mrs. McGillicuddy yang baru tersadar dari keterkejutannya pun melaporkan hal ini kepada kondektur yang kebetulan baru tiba di kompartemennya. Namun sayangnya ucapan wanita paruh baya ini dianggap lalu oleh sang petugas. Kesal tak dianggap, Mrs. McGillicuddy mencurahkan ceritanya kepada teman baiknya, Jane Marple. Dengan tenang Miss Marple mengusulkan untuk menunggu beritanya di koran pagi, karena cepat tau lambat, dugaanya, mayat itu seharusnya ditemukan dan membuat heboh surat kabar Inggris.

Sayangnya berita yang ditunggu tak kunjung tiba, tak ada kabar ditemukannya mayat wanita dalam kereta atu hal sejenisnya, dengan resah Mrs. McGillicuddy menuruti usulan Miss Marple untuk melaporkan hal ini kepada petugas polisi yang dikenalnya dan menunggu kabar selanjutnya. Lagi-lagi polisi tersebut tidak menemukan petunjuk sedikit pun mengenai mayat wanita di kereta maupun disekitar jalur kereta.

Miss Marple pun meyakinkan Mrs. McGilliCuddy yang hendak menuju India, agar tenang saja dan menyerahkan segala urusan ini kepada Polisi. Sedangkan Miss Marple diam-diam memperkirakan dimana sebenarnya mayat itu disembunyikan. Miss Marple berulang kali naik kereta dari Paddington pukul 4:50.

Kemudian untuk menjalankan penyeledikannya, Miss Marple memperhitungkan beberapa kenalannya untuk membantu, karena dirinya terlalu tua untukk melakukan segalanya sendiri. Salah satu orang kepercayaannya adalah Lucy Eyelesbarrow, seorang pembantu rumah tangga profesional yang cerdas dan ahli dibidangnya. Bagaimanakah upaya Miss Marple dan Lucy dalam menyelidiki keberadaan mayat berikut pelaku pembunuhan tersebut?

Cerita karya Agatha Christie yang satu ini sangat direkomendasikan bagi para pembaca. Buku ini mampu membawa pembaca terhanyut dalam penyelidikian yang mungkin terlihat amatir dan sederhana namun mengena. Berbagai karakter yang hadir kuat dengan karakternya, dan kemampuan Miss Marple dalam menemukan kesamaan karakter para tokoh yang ada dengan orang-orang yang dikenalnya di desa sangat menyenangkan untuk disimak.


Death Comes as the End (1944) – Book Review

Genre: Fiksi, Misteri, Mesir Kuno
Penulis: Agatha Christie

death comes as the endMengisahkan kehidupan keluarga Mesir, sebelum masehi, dimana penanggalan yang digunakan masih berbeda dengan sekarang. Renisenb adalah putri ketiga dari Imhotep, seorang imam kuil pemakaman, yang biasa mengurusi dan merawat makam beserta lahan di sekitarnya, Ia baru kembali lagi ke tanah Selatan tersebut, setelah suaminya Khay, meninggal. Renisenb yang kembali bersama putrinya, Teti, pada awalnya merasa tidak ada yang berubah dari kampung halamannya tersebut. Kakak tertuanya Yahmose yang pendiam serta istrinya yang bertolak belakang, Satipy, selalu beerbicara lantang, lalu kakak keduanya Sobek yang bersemangat serta istrinya Kait yang pendiam, lalu adiknya Ipy yang tampan dan pandai, Hori teman Yahmose yang selalu baik dengan Renisenb, Esa neneknya yang bijaksana serta Henet, keluarga jauh ibunya yang selalu saja bergosip dan mengendap-endap.

Bagi Renisenb semua tampak sama, namun Hori dengan bijak mengatakan itu tidak benar, dan benar saja suatu ketika ayahnya kembali dari Utara dengan menggandeng seorang selir baru yang masih muda bernama Nofret.
Perlahan sikap asli orang-orang di sekitar Reninsenb mulai terungkap dan kematian mengintai.
Bagaimanakah kelangsungan hidup keluarga Renisenb?

Novel yang pertama kali dirilis pada tahun 1944 ini pada bagian awalnya sedikit monoton dan datar, namun perlahan seiiring halaman demi halaman dibuka, penceritaan Agatha Christie pada buku ini mulai dapat dinikmati, memupuk rasa penasaran mengenai adegan-adengan berikutnya dan kejadian-kejadian berikutnya yang akan terjadi. Tokoh yang hadir dengan berbagai karakter yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari serta kebudayaan Mesir kuno yang dihadirkan membuka wawasan baru, karena dibuat berdasarkan surat-surat seorang egyptologist bernama Battiscombe Gunn.


Kafka on the Shore (2002) – Book Review

Genre: Fiksi, Literatur, jepang, Novel
Penulis: Haruki Murakami
Penerjemah: Philip Gabriel

“In English, there’s this expression, ‘red herring’. Something that’s very interesting but leads you astray from the main topic” – Oshima

Buku yang menceritakan tentang seorang anak laki-laki berusia 15 tahun yang melarikan diri dari rumah yang Ia huni bersama ayahnya. Ia menamakan dirinya Kafka Tamura. Kafka lahir di keluarga yang bisa dikatakan kaya raya, namun ibu dan kakak perempuannya meninggalkan dirinya dan ayahnya saat Kafka masih berusia empat tahun.

kafka

Tidak ada ingatan mengenai bagaimana wajah ibunya, yang tersisa hanya fotonya bersama kakak perempuannya di pinggir pantai saat dirinya berusia sekitar tiga tahun.

Hubungannya dengan ayahnya biasa saja, tidak baik tidak juga buruk, itdu mungkin disebabkan oleh kesibukan ayahnya sebagai seorang scluptor dan profesor seni. Kafka dapat dikatakan tinggi untuk remaja berusia 15 tahun, Ia memastikan dirinya tampak lebih tua dari umurnya, Ia melatih otot-ototnya, berolahraga sejak beberapa tahun lalu mempersiapkan hari besar ini, tepat menjelang hari ulang tahunnya yang ke lima belas.

Dengan membawa beberapa uang dari meja kerja ayahnya serta satu ransel perlengkapan sehari-hari yang ia butuhkan, Kafka meninggalkan Tokyo menuju barat, sebuah pulau yang dihubungkan dengan sebuah jembatan besar, Shikaku namanya.

Dilain pihak, Nakata-san, seorang laki-laki paruh baya yang tidak bisa membaca maupun menulis namun dikenal sebagai ahlinya mencari kucing yang hilang, perlahan berubah. Keahliannya berbicara dengan kucing membantu dirinya menemukan kucing-kucing yang hilang, dengan upah yang lumayan sehingga dirinya dapat menyantap belut kesuakaan, Nakata menjalani harinya dengan tenang. Semuanya berjalan seperti biasa, hingga suatu hari kasus hilangnya kucing peliharaan keluarga Koizumi, bernama Goma yang membawanya pada satu permasalahan pelik, yang mengubah hidupnya untuk selamanya.

Bagaimanakah petualangan Kafka di Shikoku? Perubahan seperti apa yang dialami Nakata? Sebagaimana biasanya cerita karangan Haruki Murakami, setiap tokoh yang pada bagian awal buku tampak tidak saling berhubungan dalam proses menuju akhirnya kemungkinan besar akan berkaitan, baik langsung maupun tidak. Pada bagian awal buku semua cerita tampak dekat dengan kehidupan sehari-hari pembaca, tidak ada hal yang dirasa sedikit nyeleneh.

Namun seiring dengan dibaliknya halaman buku ini, perlahan kenyelenehan khas Murakami mulai tampak, beberapa hal yang benar-benar fiksi dimunculkan pada cerita ini, namun entah kenapa bisa dikatakan masih masuk diakal. Pembelajaran dimulai dari sejarah, pengetahuan filosofi, serta pandangan-pandangan yang bervariasi tentang hidup, pencarian jati diri hadir pada buku ini.

Membuat pemabaca sering mengutip kalimat-kalimat yang dirasa dekat dengan pengalamannya serta pandangannya tentang suatu hal. Pada buku ini melalui tokoh Oshima, seorang penjaga perpustakaan yang cerdas, hadir teori-teori dan kalimat yang sangat menarik untuk dikutip.

“but people need to cling to something, they have to. You’re doing the same, even though you don’t realise it. It’s as Goethe said: everything is a metaphore.” – Oshima

 

Ya, seperti itulah ciri khas dari Penulis novel dan cerita pendek asal Jepang yang telah banyak menerima penghargaan ini, karya-karyanya selalu membuat berpikir, dan penasaran serta ketagihan ingin membaca lagi karya-karya lainya dari sang novelis.

“It’s all a question of imagination. Our responsibility begins with the power to imagine. It’s just as Yeats said: In dreamsbegin responsibility.” – Oshima